I AM NOT A ROBOT

I feel. I express.

(Source: soapylube)

Always gonna be my three favorite girls.

Always gonna be my three favorite girls.

My Hipster Student and Me

“Kak, what is a hipster?” Seorang murid saya, perempuan, yang masih duduk di kelas 4 SD tiba-tiba bertanya.

Sunyi sejenak.

“What?!” Untuk memastikan saya tidak salah dengar. 

“What is a hipster?”

Ternyata saya tidak salah dengar. Dia memang ingin tahu apa itu hipster. Saya sebagai gurunya bertanggungjawab untuk menjawab pertanyaanya. Tapi khawatir juga. Bro, anak orang, bro. Bahaya kalau salah jawab.

Me: “a hipster?”

Her: “Yes, a hipster.”

Me: “Ummm… (menyusun kata-kata di kepala) It’s hard to define what actually a hipster is. But you can identify them by the way they dress. You know. Boots, tight jeans…. And yeah. But it’s more than that. Argh. It’s hard to describe.”

Her: “But I saw them on the internet. I like how they look.”

Me: “They look as if they don’t care about how they look, but actually they prepare a lot.”

Her: “I see. I like their style since I was a third grader. I think I wanna be a hipster later when I’m in junior high school.”

Me: “You do?!” *angkat alis*

Her: “Yes. What? Is it a good thing or a bad thing?”

Me: “I don’t know. But hipsters kinda have a bad image.”

Her: “Why?”

Me: “Some people think that hipsters are spoiled people.”

Her: “What’s that?”

Me: “Manja. You know, spending their parents’ money, buying stuff.”

Her: “Oh, no. I’m not gonna be that kind of hipster. I’m gonna be a good hipster.”

Me: “Okay, that’s good. Oh, I remember what my friend told me about hipsters. Two things that describe them the most are grandma’s clothes and the latest apple gadgets. Pretty offensive, I know.”

Her: “Well I’m gonna save my money for about a year and then buy a new gadget. A poor hipster.”

Me: “Hahahahahaha. A poor hipster? I don’t know that there’s such kind of hipster.”

Her: “Oh, I know the first hipster rule. Never admit you’re a hipster.”

Me: “That’s true. Some people think it’s insulting when people ask whether they’re hipsters or not.”

Her: “Yeah. And oh…. One more. I know it’s a harsh word, but I don’t know what it means. What is HOES?”

Me: “What?!” *ngakak*

Her:  “Yes, eich-ow-i-es.” 

Me: “Listen. I’ll tell you what it means, but it’s only for your knowledge, okay? Do not use it because yes, it is a rude word. It’s the synonym of double yu-eich-ow-ar-i.”

Her: “Whore. Wait. I still don’t understand.”

Me: “You might know this one. Bi-ai-ti-si-eich.”

Her: “Bitch? What is a bitch?”

Me: “You don’t know?! Oh my, now I feel really bad. I shouldn’t have answered your question in the first place.”

Her: “I thought bitch is the one who makes a duck face when they take a picture.”

*ngakak berjamaah*

Me: “They’re naughty girls. You know.”

Her: “Ummmm… Okay.”

Me: “What websites do you visit everytime you surf the internet?”

Her: “facebook, my blogspot, 9GAG…”

Me: “9GAG? So that’s why you’re asking about hipsters?”

Her: “Yes. I find it in 9GAG.”

Lalu dia menceritakan jokes yang dia temukan di 9GAG, sampai akhirnya sang ibunda pun datang menjemput. Dan setelah dia pergi bersama ibunya, saya tiba-tiba merasa bersalah. Bagaimana tidak, topik yang kami bahas itu tidak lazim dibincangkan dengan seorang anak kelas 4 SD. Perempuan lagi. Oh my. Tapi, kalau boleh membela diri, murid saya yang satu ini pola pikirnya memang lebih dewasa dari teman-teman sebayanya. Dia sadar akan isu-isu yang sedang hangat, baik nasional maupun internasional. Dia juga sering curhat tentang pacarnya, yang rasanya sering berganti-ganti. Jleb. Kalah euy saya sebagai gurunya. Lalu dari segi bahasa, dia termasuk sudah sangat fasih berbahasa Inggris, bahkan sudah sampai pada level “kumur-kumur”, membuat saya seringkali berkata “pardon?” akibat kata-kata yang meluncur keluar dari mulutnya dengan kecepatan tinggi.

Well, for now, I know that I definitely owe her a wisdom when we meet later in the next meeting. Meanwhile, I’ll prepare the best advice I can give to her. I’m only a human, which is my favorite alibi, that I sometimes make mistakes. :)

I can feel we’re getting closer. And closer.

I can feel we’re getting closer. And closer.

(Source: i-am-the-oracular-spectacular)

Ia Yang Saya Juluki Tuan Jenaka (Orientasi)

“Selamat malam, tuan jenaka. Ada berapa anak tangga jarak dari kehilangan menuju rindu?” –@beaty_riska

12:00 AM - 22 May 12 via UberSocial for BlackBerry

Tepat di saat hari berganti. Dalam keadaan sadar.

Saya kira saya telah pensiun dari terjaga saat larut menghampiri, sembari berceloteh perihal rindu. Ternyata belum. Tweet itu buktinya. Ya Tuhan, kembali saya diusik rasa. Padahal jejak kemarin belum sepenuhnya terhapus. Tapi mungkin ini adalah jawaban dariMu atas pintaku tempo hari. Iya, saya ingat:

“Tuhan, Engkau adalah Maha Kuasa. Jika memang untuk mendampingi saya bukan takdirnya, mudahkanlah saya untuk melupakannya. Singkirkan ia dari dalam ruang di kepala dan dada. Karena saya pantas bahagia. Buat ia pergi. Turunkan pengganti.”

Engkau memang Maha Kuasa, Pemilikku. Kau benar-benar menyimak celoteh hambaMu. Kau turunkan pengganti. Yang kini menjadi penghuni ruang di kepalaku. Yang terkadang tarik menarik dengan nalar, berebut tahta, membuktikan siapa yang paling pantas menjadi raja.

Ia yang saya juluki Tuan Jenaka. Karena hanya satu kata yang saya jumpai ketika membayangkannya: suka. Ceria bahagia canda tawa. Sulit untuk tidak menggurat senyum saat berinteraksi dengannya. Tawa pun rasanya sering mengalir di luar kendali saya jika ia sudah melancarkan aksinya. Tapi saya sadari, ia lebih jenaka karena ada sumbangsih dari rasa yang saya pendam olehnya. Suka. Bukan suka ceria bahagia canda tawa. Tapi suka yang lain. Layaknya yang dimiliki seorang perempuan kepada lelaki, atau sebaliknya. Layaknya yang dimiliki saya kepada ia, dan (berharap) sebaliknya.

Tuan Jenaka telah saya kenal lama. Menuju enam tahun lamanya. Tapi jika ia ditanya hal yang sama, mungkin (atau bahkan pasti) ia akan melontarkan jawaban yang berbeda. Ia “kenal” saya belum lama. Tidak selama saya “mengenalnya”. Namun saya pun dulu hanya sebatas tahu nama dan paras. Dan saya akui parasmu menarik mata, Tuan. Mata saya yang bilang. Dan saya setuju. Namun tak lebih dari itu. Dulu. Dan mereka bilang “lain dulu lain sekarang”. Lagi-lagi saya setuju. Setelah berinteraksi lebih denganmu, ada sesuatu yang menarik saya. Semacam daya magnetik, yang saya yakin sesuatu di dalammu yang pancarkan. Entah apa itu. Kamu jenaka, cerdas, berpedirian, dan sederhana. Entah lah, apakah ini adalah penilaian objektif atau subjektif, karena sudah dibisiki suka.

Dan tidak berinteraksinya kita selama beberapa hari, (tunggu, setelah saya hitung teryata sembilan hari lamanya) berarti beberapa senyum dan tawa yang saya simpan di hati. Ah, kamu sudah sampai sejauh itu rupanya. Entahlah kehendak siapa ini, saya tidak mengerti. Tapi memang yang disebut rasa, takdirnya memang untuk dirasa, bukan dimengerti. Seperti yang tertulis di  “Kopi Belati” . Ah, secara tidak langsung kamu berarti Alkaloid saya. Zat yang membuat saya terjaga. Semoga terjaga dari sakit hati juga.

Ah. awalnya saya hanya berniat sedikit berceloteh, mengeruk rasa kehilangan yang mengisi ruang dalam diri. Cangkir per cangkir. Namun ini malah jadi tumpah. Ganjilnya, rasa kehilangan ini malah semakin meluap, tinggal menunggu waktu sebelum luber dari wadahnya. Tinggal menunggu waktu sebelum ia saya juluki rindu. Tetapi saya sudah familiar dengan ini. Entah itu sebuah keuntungan atau justru ironi. Yang jelas ada harapan, bahwa kamu akan menggenapkan keganjilan ini. Namun semuanya saya kembalikan kepada Sang Maha. Jadi? Bagaimana? Simak celoteh ini sekali lagi, wahai yang Maha Menyimak?

Himpunan Angka

Tigabelas lima delapanbelas sembilan empatbelas empat duapuluhsatu sebelas satu empatbelas tigabelas duapuluhsatu

Duapuluhlima satu empatbelas tujuh

Tigabelas lima tigabelas satu empatbelas tujuh

Duapuluh satu sebelas

Enambelas lima delapanbelas empatbelas satu delapan

Dua lima empatbelas satu delapanbelas dua lima empatbelas satu delapanbelas

Enambelas lima delapanbelas tujuh sembilan

**

Don’t look back
All you’ll ever get is the dust from the steps before
I don’t have to see you every day
But I just want to know you’re there

Don’t Look Back by She & Him

To F—S S. O—D by Edgar Allan Poe

Thou wouldst be loved?- then let thy heart
From its present pathway part not!
Being everything which now thou art,
Be nothing which thou art not.
So with the world thy gentle ways,
Thy grace, thy more than beauty,
Shall be an endless theme of praise,
And love- a simple duty. 

Pekan Menangkap Awan

Sejatinya, satu pekan terdiri dari tujuh hari. Namun aku lupa untuk menangkap awan Sabtu. Mungkin karena aku terlalu sibuk menikmati hari kesukaanku. :)

 

So. Chatting with Michael Liot wasn’t a dream, then.

So. Chatting with Michael Liot wasn’t a dream, then.